Cari Porang, Pria Ini Tersesat Selama 4 Hari di Hutan Banyuwangi Ditemukan, Kisahnya Bikin Merinding

oleh -194 views
Nurul Machrus (kiri) bersama bapak mertuanya Namo menceritakan kembalinya dirinya dari dimensi lain. (Foto: Muh Hujaini/Ngopibareng.id)

JOGLOSEMAR-Seorang warga Desa Sumbernanas, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, bernama Nurul Mahrus (38), akhirnya ditemukan dalam kondisi hidup setelah hilang dan tersesat selama empat hari di kawasan hutan desa setempat.

Pria itu selamat dari cobaan berat saat tersesat dengan cara meminum air dan makan tumbuh-tumbuhan di hutan.

Nurul Mahrus ditemukan di dalam hutan tidak jauh dari motor yang digunakannya saat mencari bibit porang. Ia ditemukan oleh bapak mertuanya dan warga setempat pada Selasa, 23 Februari 2021 malam sekitar pukul 23.30 WIB.

Disadur dari ngopibareng.id, menurut pengakuannya, ia menghilang ke dimensi lain selama empat hari.

“Saya berangkat hari Sabtu, dari sini jam 06.30 berangkatnyari bibit porang. Saya berangkat ke tempat naruh motor,” katanya.

Hari itu, dia hanya mendapatkan sedikit bibit porang. Sekitar pukul sekitar 08.30 WIB, Nurul membawa Porang yang didapatkan ke motor.

Karena hanya sedikit bibit yang berhasil dia dapatkan, dia pun memutuskan kembali mencari bibit porang. Kali ini Nurul memilih ke wilayah yang dikenal dengan sebutan Jeding Mati. Di sana ada semacam surau dan sungai kecil. Setelah membersihkan sepatunya, dia melanjutkan perjalanan ke atas ke gunung.

Setelah berjalan cukup lama ayah dua anak ini mulai merasa lapar. Dia pun mengambil rebung bambu untuk dimakan. Kebetulan tak jauh dari lokasnya terdapat pohon bambu. Setelah kenyang makan sebatang rebung dalam hati dia berdoa.

“Buyut, putune riko iki mrene golek pangan, wenono pangan riko, isun iki mrene golek lor kong (porang) sing niat nyalah, duduhono (mbah buyut, cucumu ini ke sini untuk mencari makan, berilah makananmu, saya ke sini mencari Porang. Tidak ada niat buruk, tunjukkanlah),” katanya.

Sesaat kemudian, di arah timur dan utara, dilihatnya banyak tanaman porang. Spontan dia mengambil lalu mengikatnya. Ketiga kalinya mengikat porang yang ada di tempat itu, dia menyadari hari sudah memasuki malam dan beranjak gelap. Karena sudah gelap, dia tidak mungkin lagi pulang. Karena medan di Jeding Mati sangat terjal sehingga sangat berbahaya jika sampai terperosok ke jurang.

Saat inilah tiba-tiba dia mendengar suara orang tua sedang batuk. Nurul pun memalingkan muka ke arah pria yang menurutnya berumur sekitar 70 tahun itu. Nurul menggambarkan sosok pria itu adalah orang yang gagah. Yang dia ingat, kakek itu menggunakan ikat kepala. Pada bagian depan ikat kepala tersebut terdapat dua bulu yang menyerupai bulu landak.

“Saya mau pulang Dik, adik kok belum pulang. Ini kan sudah malam. Saya jawab kalau saya pulang saya pasti mati kalau jatuh ke jurang pasti mati,” tuturnya.

Mendengar jawaban Nurul, kakek tersebut menyampaikan bahwa Nurul tidak akan mati di tempat itu. Kakek itu kemudian mengajak Nurul ke rumahnya yang lokasinya masih lebih ke puncak lagi. Setiba di lokasi yang dituju, Nurul melihat rumah kakek tersebut. Di tempat itu ada dua rumah lain menghadap timur dan dua menghadap ke utara.

Rumah kakek itu tidak seperti rumah pada umumnya. Bentuknya bulat dengan atap dan dinding barbahan ijuk. Di hadapan rumah itu, terdapat danau luas yang sangat indah. Sementara di bagian tepi danau terdapat bunga-bunga yang indah.

Nurul pun duduk teras. Tak lama kemudian sang kakek datang menyuguhkan kopi. Kali ini Nurul menolak. Karena dia tidak biasa minum kopi karena punya penyakit lambung kronis.

“Akhirnya saya dibawakan air putih kemudian diajak makan. Enak sekali makannya. Padahal cuma sayur saja, tidak pakai lauk, sayur simbukan. Padahal biasanya baunya simbukan saya tidak mau,” katanya.

Setelah makan, Nurul diminta tidur di atas kayu yang ada di depan rumah si kakek. Saat hendak tidur, tiba-tiba terdengar suara harimau. Seketika itu juga dia melihat empat ekor harimau di sekelilingnya. Tiga harimau berwana kuning. Satunya berwarna hitam dan memiliki tubuh paling besar. Harimau hitam ini terus mengaum-ngaum. Nurul kemudian mendekati harimau hitam ini sambil mengelus kepalanya seolah sudah akrab dengan harimau tersebut.

“Lalu saya bilang cul-cul, ojo rame isun arep turu. Kesok baen isuk-isuk gugahen (Cul-cul jangan ramai, saya mau tidur besok saja pagi-pagi bangunkan saya),” katanya sambil membelai kepala harimau hitam.

Keesokan paginya, begitu bangun Nurul tak lagi melihat empat harimau yang menjaganya. Dia langsung mencari si kakek untuk menanyakan kapan dirinya diantar pulang. Kakek tersebut menjanjikan Nurul akan diantar pulang oleh empat orang perempuan yang sudah setengah baya namun masih terlihat cantik. Setelah makan diapun diantar pulang oleh empat perempuan itu.

“Waktu saya mau pulang, kakek itu berpesan, tolong kalau main ke sini lagi bawakan saya ketan hitam satu takir sama wewangian berupa bunga. Begitu dia bilang ke saya,” ujarnya.

Setelah itu dia pun pulang dengan diantar empat perempuan itu. Nurul mengatakan, dia diantar dengan mengendarai kereta. Dia duduk di kursi belakang. Selama dalam perjalanan, dia terus berbincang dengan dua perempuan yang mengantarnya. Tiba-tiba kereta berhenti. Salah seorang perempuan itu berpesan kepadanya.

“Kamu jalan saja ke selatan terus. Di situlah kamu ketemu kampungmu,” ujarnya menirukan ucapan perempuan itu.

Dalam benak Nurul, arah yang disebut perempuan itu adalah utara. Dia pun menyampaikan hal itu si perempuan. Karena dirinya yakin rumahnya berada di arah selatan. Perempuan itu pun menegaskan agar Nurul menuruti pesannya bukan menuruti kata hati Nurul sendiri.

Akhirnya Nurul mengikuti pesan perempuan tersebut. Dia terus berjalan ke arah selatan meski cuaca saat itu sedang turun hujan. Namun hingga siang dia tak kunjung sampai ke Sumbernanas. Dia pun memutuskan untuk beristirahat dan melaksanakan salat dhuhur.

Setelah salat, dia memotong bambu. Bambu itu digunakan untuk memanjat pohon besar untuk mencari arah menuju rumahnya. Namun dia tidak melihat tanda-tanda wilayah itu sudah dekat rumahnya.

“Saya naik ke atas, lihat kok tidak ada laut. Mana pohon jati, mana pohon rosidi, mana pohon pinus, tidak saya temukan. Karena pohon itu ciri khas kampung saya,” katanya.

Diapun kembali mengingat pesan perempuan tadi. Dia kembali berjalan ke arah selatan meski arah itu pada pandangannya adalah arah utara. Dia terus berjalan hingga sore dan menemukan pipa saluran air. Saat itulah dirinya sadar kalau dirinya sudah kembali ke wilayah Jeding Mati. Karena dirinya sudah sering lewat di tempat itu.

Nurul pun meneruskan perjalanan menuju ke arah selatan hingga maghrib. Sambil berjalan dia terus meneriakkan kata ‘ough’. Kata ini semacam kode bagi warga Sumbernanas yang bekerja di hutan. Biasanya jika mendengar kata ini maka orang yang mendengar akan membalasnya dengan teriakan yang sama. Tapi saat itu tidak ada yang menjawab. Padahal biasanya selalu banyak orang kampungnya di sekitar tempat itu.

“Saat matahari sudah terbenam, barulah saya mendengar suara sahutan. Dan Sahutan itu ternyata dri Bapak (mertua) saya,” katanya.

Setelah pertemuan dengan Namo dan warga yang lain dia mendapatkan informasi kalau dirinya sudah hilang selama empat hari. Padahal dirinya merasa hanya menginap satu malam di rumah kakek tersebut dan pulang pada Minggu paginya.

“Ternyata yang saya pikir baru terbenam matahari, di sini sudah jam 12 malam. Ternyata Saya sudah empat hari. Saya masih tidak percaya kalau hari ini hari Rabu. Yang saya ingat saya nginap satu malam,” ungkapnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *