Hadapi Potensi Risiko Tsunami Selatan Jawa, Ganjar Pranowo: Daerah Didorong Jadi Desa Tangguh Bencana

oleh -34 views
Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG – Pada September lalu hasil riset para peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) terkait adanya potensi tsunami 20 meter di selatan Jawa viral dan ramai diperbincangkan masyarakat. Hasil riset yang telah diterbitkan dalam jurnal Nature Scientific Report pada (17/9/2020) itu dianggap mengkhawatirkan jika benar-benar terjadi nantinya. 

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam beberapa kesempatan juga memastikan bahwa potensi ini harus dihadapi dan proses mitigasi terus dilakukan oleh pihaknya. Ia meminta pemerintah daerah di wilayah selatan Jateng untuk memetakan daerah berpotensi terdampak tsunami. Kemudian, daerah tersebut didorong untuk menjadi Desa Tangguh Bencana (Destana).

“Potensi itu ternyata luar biasa di wilayah selatan, nah dari cerita potensi megathrust yang di selatan itu, ternyata bisa kita simulasikan,” kata Ganjar usai menghadiri paparan ‘Potensi Risiko Tsunami Selatan Jawa dan Diskusi Rencana Kegiatan Pengurangan Risiko Bencana’ secara virtual di kantornya, Senin (28/12/2020). 

Acara tersebut diikuti Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin, Forkopimda Jateng, para ahli dari Pusat Studi Gempa Nasional, hingga perwakilan BPBD dari daerah di Selatan Jawa Tengah.

Ganjar menjelaskan, simulasi dapat dilakukan dengan melakukan pemetaan area yang terkena megathrust. Dirinya mencontohkan wilayah Cilacap yang telah mengidentifikasi 55 desa rawan terdampak tsunami.

“Maka kita akan identifikasi seluruh desa yang ada di wilayah selatan untuk kita siapkan semua harus menjadi desa tangguh bencana,” kata Ganjar.

Di sisi lain, Ganjar juga mencatat saran yang diberikan oleh para ahli dari ITB yakni untuk menerapkan green belt. Pihaknya akan mendorong Pemda di wilayah potensi terdampak tsunami untuk menanam bibit pohon tertentu yang dapat mengurangi dampak tsunami.

“Tadi disampaikan agar kita menyiapkan greenbelt dengan tanam pandan laut yang bisa dipkai sebagai front line,” ujarnya.

Sedangkan untuk beberapa daerah yang diidentifikasi berpotensi terdampak tsunami namun tak memiliki dataran tinggi akan didorong untuk membuat area penyelamatan artifisial atau buatan.

“Kita perlu mengidentifikasi beberapa daerah untuk membuat rescue area. Bisa bangunan atau semacam bukit yang secara artificial itu dibuat sehingga orang nanti bisa lari (ke sana) menyelamatkan (diri),” tegas Ganjar. (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *