IDI: Minum Air Kelapa untuk Hilangkan Efek Vaksin Tidak Rasional

oleh -42 views
ILUSTRASI FOTO/DOK ANTARA

JOGLOSEMAR-Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh Dr dr Safrizal Rahman MKes SpOT menyatakan fenomena masyarakat yang meminum air kelapa muda usai menerima suntikan vaksin COVID-19 untuk menetralisir efek vaksinasi merupakan sesuatu yang tidak rasional.

“Tidak ada rasionalisasi untuk meminum air kelapa setelah divaksin, itu tidak ada hubungan sebab akibatnya,” kata Safrizal di Banda Aceh, dikutip Antara, Senin, 5 Juli.

Fenomena minum air kelapa muda usai divaksin COVID-19 tengah marak di tengah masyarakat daerah Tanah Rencong itu. Tujuannya agar dosis vaksin yang disuntik ke dalam tubuh tidak menimbulkan efek.

“Vaksin disuntikkan dalam otot kita dan air kelapa itu masuk dalam saluran cerna kita, jadi butuh waktu sekian lama untuk bertemu dalam sistem tubuh, jadi enggak ada hubungannya itu,” kata Safrizal, menjelaskan.

Di samping itu, dia menjelaskan, air kelapa muda memang baik untuk tubuh, karena mengandung banyak elektrolit, dan membantu tubuh ketika kekurangan elektrolit sehingga merasa lebih sehat dan segar.

“Yang pasti adalah setelah divaksin kita istirahat, kemudian makan bergizi, barang kali kelapa muda salah satunya,” katanya.

“Air kelapa muda tidak hanya ada di Indonesia, tapi di Amerika Serikat juga ada. Jadi belum ada pembuktian penelitian yang mengarah ke sana, belum ada,” katanya, menegaskan.

Selain itu, IDI juga mengimbau agar masyarakat tidak takut untuk divaksin COVID-19. Program vaksinasi bertujuan untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) di tengah masyarakat dari serangan virus itu.

Menurut dia, vaksin COVID-19 terdiri dari beberapa merek. Di Aceh, pemerintah masih menggunakan vaksin Sinovac, terbuat dari virus yang telah dilemahkan. Dan penyuntikan vaksin dilakukan dalam dua dosis, yakni dosis pertama yang disuntik tidak ada bedanya dengan dosis kedua.

“Artinya penyuntikan dosis pertama diberikan untuk pengenalan dulu saja, dosis kedua baru merangkum semua untuk mengoptimalkan fungsinya (vaksin). Jadi tidak benar kalau dikatakan dosis pertama berbeda dengan dosis kedua,” katanya.

Selain itu, dia juga meminta masyarakat untuk menyaring informasi yang diterima tentang vaksin agar tidak terpapar berita bohong atau hoaks. Warga diminta perbanyak referensi informasi dari situs-situs resmi tentang kesehatan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.