Membenturkan SBY Megawati Ibarat Merobek Merah Putih, Ini Kata Politikus Demokrat

oleh -1.070 views
Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono/Net

JOGLOSEMAR-Hubungan Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali ramai dibahas. Itu setelah senior Demokrat, Marzuki Alie menyebut Mega kecolongan dua kali oleh SBY. 

Namun di tengah polemik keretakan SBY-Mega, ada kisah kedekatan Ketum PDIP dan Ketua Majelis Tinggi Demokrat.

Hal ini disampaikan Ketua Balitbang DPP Partai Demokrat, Syahrial Nasution melalui akun Twitternya, Sabtu (20/2).

“Membenturkan Pak SBY dengan Ibu Mega, seperti merobek merah putih. Keduanya, Presiden ke-5 dan ke-6 RI. Banyak irisan sejarah,” tulis Syahrial Nasution.

Satu hal kedekatatan keduanya yakni soal ajudan Megawati saat masih menjabat sebagai Wakil Presiden tahun 1999. Saat itu, Mega mengangkat Kol (Pol) Budi Gunawan (BG) sebagai ajudan Adc.

“Satu ketika, tahun 2000, Wapres Megawati, Menperin Luhut Panjaitan, Menko Polkam SBY, dan KSAD Jenderal Tyasno mendatangi Grup 5 Kopassus di Cijantung. Tuan rumah adalah Kolonel Pramono Edhi Wibowo, Komandan Grup 5 pasukan elite TNI. Tak lain, adik ipar Pak SBY,” jelas Syahrial.

Tak lama dari kunjungan tersebut, Kolonel Edhie diangkat sebagai Adc Wapres dan bergabung dengan Kolonel Budi Gunawan dalam satuan Adc Wapres Megawati.

Syahrial memaparkan, Kol. Edhie dan Kol. BG terus mendampingi Mega hingga menjabat Presiden ke-5 RI menggantikan Presiden Gus Dur. Meski terjadi persaingan antara SBY dan Megawati pada Pilpres 2004, kata Syahrial, Kol. Edhie tidak dicopot dari posisi Adc.

“Sebelum menyerahkan jabatan presiden kepada Pak SBY, BG diberi pangkat bintang 1 sebagai jenderal termuda oleh Ibu Mega. Brigjen BG menempati jabatan Karo Binkar, posisi yang sangat menentukan masa depan anggota di Mabes Polri,” jelasnya.

Syahrial kemudian membeberkan bahwa saat SBY menjabat sebagai presiden kerap didatangi politisi PDIP, yakni Pramono Anung yang kala itu masih menjabat sebagai Sekjen PDIP. Tahun 2005, kata dia, Pramono beberapa kali bertemu dengan SBY dan kerap menyinggung nama Brigjen BG yang ingin menjadi Kapolda.

“Konon, pesan tersebut datang dari Ibu Mega. Dan tahun 2008, jadilah Brigjen Budi Gunawan menempati posisi Kapolda Jambi atas kebaikan Pak SBY,” sambungnya.

Ketika SBY menjabat presiden untuk periode ke-2, Pramono disebut kembali berbisik agar Brigjen BG bisa dipromosikan sebagai Kapolda bintang 2 di Jawa. Namun saat itu, SBY merasa keberatan karena khawatir akan jadi persoalan bagi pendukungnya.

“Namun demi kepentingan bangsa, Pak SBY setuju Irjen Budi Gunawan mendapat bintang 2 dan menjabat Kapolda Bali. Tempat yang menjadi basis dukungan Ibu Mega. Untuk mempersiapkan diri sebagai Kapolda Tipe A tersebut, BG melalui jalan tol sebagai Kadiv Binkum dan Kadiv Propam Polri,” paparnya.

Atas dasar itu, ia pun meminta agar sejarah baik antara SBY dan Mega tersebut tidak dirusak demi persatuan bangsa.

“Tidak juga perlu pasukan buzzeRp yang dipersenjatai dengan fitnah dan rekayasa kekuasaan hanya untuk merusak persatuan,” tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *