Meski Dikepung Banjir, Ada Emas dari Desa Lebong Tandai di Monas

oleh -1.203 views
Foto: https://ceritadaerahkami.blogspot.com/

JOGLOSEMAR-Sejak dulu, Indonesia terkenal sebagai penghasil emas. Cerita Cindua Mato dari Minangkabau sudah menyebut Sumatera sebagai Pulau Amerh (Pulau Emas). Cerita rakyat Lampung juga menyebut Sumatera sebagai Tanoh Mas. Sejarawan Tiongkok I-tsing juga menyebut Sumatera sebagai Chin-Chou (Negeri Emas).

Dalam berbagai prasasti, Sumatera disebut dalam bahasa Sansekerta dengan istilah Suwarnadwipa (Pulau Emas) atau Suwarnabhumi (Tanah Emas). Nama-nama ini juga sudah dipakai dalam naskah-naskah India dan Buddha sebelum Masehi. Naskah Yunani kuno, Periplous tes Erythras Thalasses, juga menjuluki Sumatera sebagai Chryse Nesos (Pulau Emas).

Kenyataannya, bukan cuma Sumatera. Timbunan emas juga bisa ditemukan dari seluruh pelosok Nusantara. Mulai dari ujung barat Jawa sampai pelosok timur Papua, batuan emas menanti untuk ditambang.

Hari ini, Ibu Kota negara, DKI Jakarta dikepung banjir. Mendengar kata Jakarta, tentu tidak asing dengan ikon kotanya, Monas. Monumen Nasional, sebuah monumen yang didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan.  

Presiden Soekarno merencanakan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel. Monumen Nasional setinggi 132 meter itu mulai dibangun pada Agustus 1959 di area seluas 80 hektar oleh arsitek Soedarsono dan Frederich Silaban.

“Kita membangun Tugu Nasional untuk Kebesaran Bangsa. Saja harap, seluruh Bangsa Indonesia membantu pembangunan Tugu Nasional itu.” Kalimat itu tumpah pada 29 Juli 1963 dari mulut Soekarno, Presiden RI saat itu. Ucapan ini terlontar 2 tahun setelah Tugu Nasional – kini Monumen Nasional (Monas).

Menurut dokumen yang bisa dilansir dari situs Perpustakaan PU, ‘Tugu Monas: Laporan Pembangunan’ yang diterbitkan 17 Agustus 1968, dituliskan lidah api di atas tugu Monas berbentuk kerucut setinggi 14 meter, dibuat dari perunggu seberat 14,5 ton yang terdiri dari 77 bagian yang disatukan, kemudian dilapis emas murni seberat lebih kurang 35 kg. Tidak disebutkan dari mana emas itu berasal.

Kemudian demi merayakan ulang tahun emas Republik Indonesia pada 1995, pemerintah saat itu menambah jumlah emas agar genap 50 kilogram.

Faktanya, dari mana emas itu berasal?

Diketahui, emas yang berada di Monas diperoleh dari Desa Lebong Tandai, Lebong Tandai adalah salah satu Desa di Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.

Desa ini dialiri oleh Sungai Lusang yang cukup jernih dan terdapat Bendungan bernama ‘Tokorotan’ yang dibangun kolonial Belanda, dengan jembatannya yaitu bernama Pooley yang di bangun 30 maret 1985 oleh Belanda dan beberapa Rel Kereta Kecil (molek) yang masih di gunakan sebagai salah satunya alat Transportasi menuju ke Desa Lebong Tandai.

Pada umumnya masyarakat Desa Lebong Tandai berasal dari Suku Rejang sebagai penduduk asli dan pendatang dari Jawa Barat. Para pendatang ini adalah keturunan dari pekerja tambang yang dibawa pada masa penjajahan Belanda.

Lebong Tandai, pada masa penjajahan Belanda, merupakan lokasi yang dipenuhi emas. Aktivitas pertambangan di daerah itu dimulai sejak 1890 oleh perusahaan Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong dan Mijnbouw Maatschappij Simau. Kedua perusahaan itu merupakan penyumbang besar ekspor emas perak Hindia Belanda dengan produksi ratusan ton emas dan perak selama 1896-1941.

Dikutip dari bengkuluekspress.com, pembangunan mahkota emas yang berada di puncak Monas tersebut merupakan sumbangan dari warga Kabupaten Lebong, yakni H Lukman Hakim.  Dimana H Lukman merupakan salah satu pengusaha tambang emas tradisional di Lebong Simpang yang masuk wilayah Desa Mangkurajo Kecamatan Lebong Selatan.

“Saya dan keluarga juga banyak yang tidak terlalu tahu detail persis bagaimana cerita mengenai sumbangan emas dari datuk saya waktu itu. Dokumen-dokumen terkait sumbangan emas tersebut juga banyak disimpan di keluarga di Curup. Tapi secara garis besar saya sedikit tahu perjalanannya,” kata Devi Gunawan yang merupakan anak dari Sofian Hakim atau cucu dari H Lukman Hakim tersebut.

Image result for emas monas dari bengkulu lukman hakim

Diceritakan Devi, awal mula sumbangan emas dari datuk atau kakeknya tersebut, dari rencana akan dibangunnya Tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Waktu itu daerah-daerah yang menghasilkan emas diminta untuk menyumbangkan emas untuk tugu emas.  Saat itu Lebong masih masuk wilayah Kabupaten Rejang Lebong dan wilayah pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.

Tak kalah menarik, sumber lain mencatat, benar tidaknya soal emas terdapat sosok menarik dalam sejarah Indonesia, yaitu nama Markam. Ia hanya disebut sebagai pengusaha. Sulit menemukan catatan yang menegaskannya sebagai penyumbang 28 kg emas untuk pucuk Monas.

Yang pasti. atas perintah Presiden Soekarno, Monas dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas seberat 28 kilogram yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *