Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini, Ganjar Pranowo; Junjung Nilai Budaya Jawa

oleh -8 views
Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG РGubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengukuhkan lima sekolah di Soloraya yang menerapkan model Adipangastuti, Kamis (17/12/2020). Ia berharap model sekolah Adipangastuti ini dapat diterapkan juga di daerah lain sebagai bentuk pembelajaran toleransi dan pembentukan karakter anak sejak dini.

Lima sekolah yang dikukuhkan menjadi model sekolah Adipangastuti adalah SMAN 1 Surakarta, SMAN 6 Surakarta, SMAN 1 Kartasura, SMAN 3 Sragen, dan SMAN 1 Gemolong Sragen. Sebelum dikukuhkan, kelima sekolah tersebut telah menjadi pilot model sekolah Adipangastuti selama enam bulan, sejak Juli 2020 sampai Desember 2020.

“Saya kukuhkan Lima sekolah ini untuk menjadi contoh sekolah model adipangastuti. Kalau bisa di daerah lain juga bisa ada. Tidak harus sama konsepnya,” kata Ganjar saat pengukuhan sekolah Adipangastuti secara daring di Kantor Gubernur.

Junjung Nilai Budaya Jawa

Sekolah Adipangastuti merupakan sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai hasthalaku dalam kegiatan program sekolah. Hasthalaku adalah delapan nilai budaya Jawa yang meliputi gotong royong, guyub rukun, grapyak semanak (ramah), lembah manah (rendah hati), ewuh pakewuh (saling menghormati), pangerten (saling menghargai), andhap ashor (berbudi luhur), dan tepo seliro (tenggang rasa).

“Ini adalah kesempatan untuk membangun karakter anak-anak yang sejak dini harus terbiasa berbeda. Kalau hasthalaku ini diterapkan maka tidak akan ada lagi yang ‘gelut-gelutan’,” kata Ganjar.

Menurut Ganjar, model sekolah Adipangastuti itu sangat efektif untuk mengajarkan toleransi dan kemanusiaan. Namun untuk mengukur efektivitas itu tidak serta merta bisa dilakukan. Harus ada keberlanjutan dalam menginternalisasi, memahami, melakukan, dan membudayakan konsep itu.

“Kalau semua orang sudah melakukan itu, baru dikatakan berhasil. Efektivitas harus dilakukan terus-menerus. Setiap orang pasti akan dipengaruhi oleh faktor dari luar, jadi kalau sudah belajar Hasthalaku akan tahu penerapan delapan nilai luhur itu sehingga perlu dilakukan secara kontinyu agar semua bisa menerapkan Hasthalaku dengan baik,” katanya.

Sementara untuk pengembangan di daerah lain tidak harus menggunakan konsep yang sama. Model Adipangastuti sangat bagus dan daerah lain harus bisa membuat konsep serupa yang sesuai dengan daerahnya.

“Konsep sebisa mungkin muncul dari bawah atau bottom up. Saya mendukung pengembangan ini, tetapi bukan dari saya karena kalau konsep muncul dari bawah maka nanti akan saling berbagi dan bertemu,” ungkapnya. (rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *