Rumah Hantu Tempat Karantina Bagi Pemudik yang Nekat Mudik

oleh -306 views

JOGLOSEMAR-Pemkab Sragen terus menambah jumlah rumah angker yang akan digunakan untuk mengarantina pemudik bandel. 

Rumah hantu super angker yang merupakan bangunan peninggalan Belanda di Kecamatan Gondang akan digunakan untuk wisma karantina bagi warga yang tak tertib  karantina mandiri.

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sragen telah mengimbau masyarakat untuk melakukan karantina mandiri di rumah. Hal ini untuk meminimalisir penularan Virus Corona Covid-19. 

“Sayangnya, masih banyak masyarakat yang “bandel” dan tak mengindahkan imbauan tersebut,” ucap Bupati Yuni, Kamis (23/4/2020).

Namun, Pemerintah Kabupaten Sragen memiliki cara unik untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mereka menyediakan sebuah rumah angker untuk mengisolasi masyarakat yang melanggar imbauan pemerintah.

Bupati meminta setiap desa menyediakan rumah rumah kosong yang tak berpenghuni untuk mengarantina pemudik.

“Sebelumnya dua warga dari Desa Jabung, Kecamatan Plupuh yang menjalani karantina di rumah angker, ya karena tak mau menjalani karantina mandiri di rumah,” ucap Yuni.

Terpisah, Kepala Desa Sepat, Masaran, Sragen, Mulyono mengatakan, Satgas Lawan Covid-19 Sepat memang menyediakan rumah kosong berhantu sebagai tempat karantina untuk warga yang membandel.

Terbaru, ada 5 orang yang dijebloskan ke rumah angker yang disiapkan kepala desa setempat untuk mengisolasi warga dan pemudik bandel.

“Sebenarnya mereka diminta diam di rumah kami pantau dari posko. Tapi malah ada yang nekat keluyuran. Ya dengan terpaksa kami jemput ke sini,” ujarnya.

Tak hanya warga yang bandel, pemudik yang tetap bersikukuh pulang ke Sragen di tengah pandemi Covid-19 juga bakal menjalani isolasi diri di rumah angker tersebut.

Kini, Pemkab Sragen menyiapkan rumah hantu super angker yang merupakan bangunan Peninggalan Belanda di Kecamatan Gondang. 

Camat Gondang Catur Sarjanto saat dikonfirmasi mengatakan omah londo itu telah disiapkan untuk menampung pemudik. “Bangunan tua di sini banyak kalau penuh bisa ganti yang lain. Mau yang angker banget juga ada,” ujarnya.

Sebelumnya pemudik yang pulang harus datang ke posko Lawan Covid-19 di desa dan mendatangani perjanjian melaksanakan isolasi atau karantina mandiri selama 14 hari.

Kalau pemudik di Sragen menolak karantina mandiri, desa bisa mengambil tindakan tegas.

Salah satunya memasukkan mereka ke rumah angker. Penegasan ini sebagai komitmen karantina mandiri harus disadari semua pihak untuk menekan kasus penularan Covid-19. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.