Saat Raden Mas Soewardi Soerjaningrat di Pakualaman Bikin Taman Siswa

oleh -16 views
Soewardi Soerjaningrat | Buku "Ki Hadjar Dewantara : Perintis perdjuangan kemerdekaan Indonesia" /Domain publik

JOGLOSEMAR-Hari ini 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional (hardiknas). Pada tahun 2021, hardiknas mengambil tema “Serentak Bergerak Wujudkan Merdeka Belajar”. Yuk simak kilas balik hari pendidikan nasional.

“Perayaan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei sendiri mengacu pada hari lahir Ki Hajar Dewantara yang menjadi pahlawan nasional karena jasanya di bidang pendidikan,” demikian keterangan video dalam akun instagram resmi Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemko PMK) @kemenko_pmk, Minggu (2/5/2021).

Dalam berbagai sumber disebutkan, Ki Hajar Dewantara yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat lahir pada 2 Mei 1889 di Pakualaman. Soewardi yang dikenal sebagai pendiri sekolah Taman Siswa lahir dari kalangan bangsawan Jawa. Keluarganya berasal dari kerajaan Pakualaman. Ia adalah salah satu cucu Pangeran Paku Alam III melalui ayahnya, GPH Soerjaningrat.

Berkat latar belakang priayi (bangsawan Jawa) keluarganya, ia dapat mengakses pendidikan umum kolonial, sebuah kemewahan yang tidak dapat dicapai sebagian besar penduduk biasa di Hindia. “Pada zaman penjajahan Belanda, pendidikan adalah hal yang sangat langka, terpandang, dan mahal,” demikian dikutip dalam cuplikan video di Instagram Kemko PMK.

Di masa mudanya, Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai aktivis sekaligus jurnalis pergerakan nasional. Melalui tulisan-tulisannya, ia kerap menyampaikan kritik terkait pendidikan di Indonesia yang kala itu hanya boleh dinikmati keturunan Belanda dan orang kaya. Akibat perlawanannya terhadap penjajahan Belanda melalui kritikan yang ia tulis, Ki Hajar pernah diasingkan ke Belanda bersama dua temannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoeseomo.

Selain menjadi wartawan muda, Ki Hajar Dewantara juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Salah satunya aktif pada organisasi Budi Utomo. Sejak berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908, ia aktif dalam pengabdian dakwah untuk mensosialisasikan dan meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia sebagai persatuan bangsa (khususnya di Jawa).

Taman Siswa yang berdiri 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta menjadi cikal bakal Sekolah Rakyat dan kemudian mampu membawa pendidikan ke kaum menengah ke bawah, yang tadinya tak bisa menikmati sekolah.

Setelah Indonesia merdeka, ia diangkat menjadi menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Pengajaran Indonesia di kabinet pertama di bawah pemerintahan Soekarno.

Sementara peringatan hardiknas ditetapkan setelah adanya Surat Keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959 tertanggal 28 November 1959.

Semboyan Ki Hajar yang hingga kini melekat adalah adalah ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladana atau contoh yang baik), ing madya mangun karsa (di antara murid dan guru harus menciptakan ide dan prakarsa), tut wuri handayani (dari belakang, seorang guru harus memberi arahan). “Hingga kini, semboyan tersebut terus digunakan dalam dunia pendidikan masyarakat Indonesia,” demikian kutipan video instagram Kemko PMK.

Berkat sepak terjang dan jasa besar Ki Hajar, kini semua lapisan masyarakat bisa merasakan pendidikan secara umum. “Ki Hajar Dewantara adalah pelopor pendidikan nasional atau dikenal Bapak Pendidikan Nasional,” demikian keterangan Kemko PMK.

Ki Hajar meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *