Sebelum Perang Jawa, Ada Kisah Pangeran Diponegoro Bertemu Nyi Roro Kidul

oleh -279 views
Pangeran Diponegoro naik kuda, mengenakan jubah da surban, ketika beristirahat bersama pasukannya di bantaran sungai Progo, pada penghujung tahun 1830.(Foto: Pinterest.com)
Pangeran Diponegoro naik kuda, mengenakan jubah da surban, ketika beristirahat bersama pasukannya di bantaran sungai Progo, pada penghujung tahun 1830.(Foto: Pinterest.com)

JOGLOSEMAR-Terpetik dalam buku buku Kuasa Ramalan (2007)—biografi Diponegoro karya sejarawan Inggris, Peter Carey—dan Babad Diponegoro (1831-1832) disebutkan Sang Pangeran bertemu Nyi Roro Kidul. Diponegoro bertemu dalam ziarahnya di beberapa tempat di Pantai Selatan.

Ketika datang ke Pantai Selatan, Diponegoro mengikuti rute yang sudah ada. Dia berhenti sejenak di Gua Siluman, kemudian menghabiskan dua malam di Gua Sigologolo, di tepi kiri Kali Opak di Kecamatan Gamelan, Gunung Kidul. Kedua gua ini sering dikaitkan dengan dua tradisi spiritual Jawa dan sering dikunjungi elite Istana untuk bersemedi dan menyepi. Bahkan, Gua Siluman disebut-sebut sebagai bagian dari Istana Para Lelembut yang diperintah oleh Dewi Pantai Selatan, Ratu Kidul.

Pangeran Diponegoro kemudian memasuki Gua Langse serta memurnikan semua keinginannya hingga mencapai tahap trance. Pangeran Diponegoro pun akhirnya bertemu Ratu Kidul, yang kehadirannya didahului oleh aura sinar. Namun, Pangeran Diponegoro sudah sangat terhanyut dalam semedinya, hingga Ratu Kidul sadar bahwa sang pangeran tidak bisa “diganggu”. Ratu pun kemudian mundur sambil berjanji suatu saat akan datang lagi.   

Waktu yang dijanjikan Ratu Kidul baru terwujud lebih dari 20 tahun kemudian. Saat itu Perang Jawa sedang sengit-sengitnya berlangsung. Pangeran Diponegoro dan pengikutnya tengah berkemah di Kamal, di tepi suatu cabang Kali Progo, kira-kira pada pertengahan Juli 1826. Saat itu Ratu Kidul berjanji akan membantu Pangeran Diponegoro melenyapkan orang-orang Belanda asalkan sang pangeran meminta kepada Allah agar Ratu Kidul bisa menjadi manusia lagi. Permohonan itu lalu ditolak Pangeran Diponegoro yang menyebutkan bahwa pertolongan hanya datang dari Sang Maha Kuasa.

Setelah perjumpaan dengan Ratu Kidul yang pertama di Gua Langse, Pangeran Diponegoro kemudian turun ke Parangtritis dan kemudian tidur di Parangkusumo. Dalam perjalanan ziarah ini Diponegoro sering mendapat kontak gaib atau penerawangan dengan ruh leluhur dan penjaga spiritual tanah Jawa. Salah satunya terjadi di Gua Song Kamal, di sekitar selatan Yogyakarta.

Dalam babad yang ditulisnya sendiri dikisahkan, Diponegoro yang saat itu tengah melakukan laku tirakat dikunjungi oleh wali legendaris Tanah Jawa, Sunan Kalijaga. Melalui suara gaib, Sunan Kalijaga mengatakan akan datang masa kehancuran Jogja dan awal runtuhnya Jawa alias wiwit bubrah tanah Jawi, dalam tiga tahun ke depan.

Diponegoro kemudian diperintahkan mengubah nama religiusnya dari Ngabdulrahim menjadi Ngabdulkamit dan dikatakan juga, suatu tanda akan diberikan kepadanya dalam bentuk sebuah anak panah bernama Sarutomo. Panah itu segera tampak olehnya seperti suatu kilatan cahaya yang menembus batu tempatnya tidur. Kemudian suara itu pun lenyap.

Diponegoro memang dikenal melakukan ziarah di beberapa tempat sejak 1805. Selain mengunjungi makam para wali, dia juga mengunjungi makam leluhurnya, Sultan Agung dan napak tilas tempat leluhurnya di gua-gua di Pantai Selatan. Selama ziarah,napak tilas dan menyepi, Pangeran Diponegoro selalu membawa serta tongkatnya, Kyai Cokro. Tongkat sepanjang 153 sentimeter .

Tongkat ini yang berasal dari Kerajaan Demak pada abad 16 ini diberikan 1815. Terbuat dari besi sepanjang 153 sentimeter dengan cakram pelindung berbentuk bulat, cakra,yang dalam mitologi Jawa cakra adalah senjata dewa Wisnu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *