Ternyata Ini Alasan Mengapa Pelat Nomor Kendaraan Tidak Ada Huruf C?

oleh -2.145 views
Foto (Twitter)

JOGLOSEMAR-Selama ini Anda mungkin penasaran dari manakah istilah Celebes, Borneo, dan ejaan ‘oe’ seperti ‘Bandoeng’ berasal? Bila dilihat dari penggunaan abjad dan bahasanya, kata-kata tersebut diadaptasi dari bahasa Belanda.

Sebagai negara bekas jajahan Belanda, Indonesia memang diwariskan beberapa peninggalan bersejarah yang masih digunakan hingga saat ini. Termauk nama-nama kota dan plat nomor kendaraan di daerah tersebut.

Salah satu buktinya bisa ditilik dari unggahan foto milik akun Twitter @almascatie. Dalam foto tersebut, terlihat secarik kertas kuno yang berisikan nama-nama kota lengkap dengan plat kendaraan.

Pada bagian atasnya tertulis kalimat, “Letter Auto Dari Nederlandsch Oosch-Indie”. Sementara di bagian bawahnya, terdapat 39 nama kota dan kabupaten yang masih menggunakan ejaan kuno Belanda.

Mulai dari Bantam (Batam), Batavia (Jakarta), Bandoeng (Bandung), Buitenzorg (Bogor), Cheribon (Cirebon), Jocjakarta (Yogyakarta), Soerakarta (Solo), Borneo (Kalimantan), Celebes (Sulawesi), hingga Amboina (Ambon).

Di sisi kanan nama kota tersebut juga dilmpirkan kode plat mobil untuk masing-masing daerah. Hampir semuanya masih digunakan oleh pemerintah hingga saat ini, misalnya Jakarta dengan kode plat B, Bandung plat D, Yogyakarta plat AB, hingga Sulawesi Selatan yang berplat DD.

Semuanya tertulis dengan ejaan lama yang sukses menarik perhatian netizen. Bahkan, beberapa nama kota sempat menjadi bahan diskusi sejumlah netizen yang mengaku penasaran dengan arti dan alasan di balik pemilihan nama kota tersebut.

Seperti pertanyaan yang dilontarkan oleh akun @1stfeanco, “Cheribon kok berasa lebih “fun” ya?” tulisnya.

Ada juga netizen yang mencoba menjelaskan asal usul kata Buitenzorg yang kini dikenal dengan Kota Bogor. Hal ini ternyata tidak terlepas dari kebiasaan orang Belanda yang kerap berlibur di daerah tersebut.

“btw, arti kata Buitenzorg “bebas stress” dimaksudkan sbg t4 istirahat/senang2/liburan para Meneer & Ny. Belanda pada masa itu. CMIIW,” tulis akun @INceRoechyat.

Penjelasan itu dibenarkan oleh akun @yoyen yang kebetulan fasih berbahasa Belanda. Menurutnya Bultenzorg terbagi menjadi dua kata yang digabungkan.

“Buitenzorg = buiten (beyond) + zorg (worry). Buitenzorg arti harafiahnya = di luar kekhawatiran, sekarang istilahnya bebas stress,” tuturnya.

Sang pengunggah foto pun tak mau kalah. Ia membuka forum diskusi terkait absennya huruf C pada daftar plat mobil di kota-kota besar Indonesia.

“Kenapa ndak ada plat nomor C? Ejaan lama C itu TJ. Jd ga masuk sih. G ada abjadnya,” tanya @almascatie.

Namun menurut penjelasan akun @saelowed, ternyata tidak hanya huruf C yang tidak digunakan pada pembagian daerah atau blok di era kolonial Belanda.

“Bukan cuma itu. Emang huruf huruf di bawah ini bukan blok residen jawa di bawah kekuasaan Thomas Raffles.

C I J O Q U V W X Y Z

Blok itu ADA tapi sbg reserve.

Later yes, it is unused because of diplomatic plates and ‘tj’,” terang @saelowed.

Ia menambahkan, saat ini huruf C tidak digunakan karena dikhawatirkan tertukar dengan plat mobil konsulat jenderal (CC).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.