Tidak Bisa Lihat Pergerakan Virus asal Tiongkok, Menkes: Perang Lawan Covid-19 Bagaikan Operasi Kontra Intelijen

oleh -28 views
Penandatanganan MoU antara Kemenristek/BRIN dan Kemenkes tentang Surveilans Genom virus SARS-CoV-2 (Youtube.com/Kemenristek/BRIN)

JOGLOSEMAR-Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, peperangan yang sedang berlangsung antara umat manusia dan virus corona (COVID-19) bagaikan operasi kontra intelijen (Counter Intelligence). Hal ini dikarenakan tidak ada yang bisa melihat pergerakan virus asal Wuhan, Tiongkok tersebut.

Hal itu diungkapkan Budi dalam acara Penandatanganan MoU antara Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) dan Kementerian Kesehatan tentang Surveilans Genom virus SARS-CoV-2 di Jakarta, Jumat (8/1/2021).

Dalam acara tersebut, hadir pula Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristke/BRIN) Bambang Brodjonegoro.

“Nah pencerahan dari Pak Bambang itu menyadarkan saya ini seperti operasi counter intelligence. Musuhnya sudah menyusup, musuhnya masuk. Nah kita gak tahu. Karena memang kita tidak memiliki peralatan, kita tidak memiliki tools, kita tidak memiliki proses untuk mengetahui apakah musuhnya sudah menyusup atau tidak,” kata Budi.

Dalam kesempatan itu, Budi memaparkan bahwa dunia tidak siap melawan virus corona karena kekurangan peralatan. Ini karena selama ini pemerintahan dari berbagai negara lebih memperhatikan sistem persenjataan dan sistem pertahanan.

“Saya jadi teringat Bill Gates itu bicara di TED sekitar 2010, sesudah SARS cov-1 melanda di China. Dia sempat bilang bahwa ini manusia salah mereka spending trillion of US Dollar membangun sistem persenjataan dan sistem pertahanan, seakan-akan nanti yang akan membunuh jutaan manusia adalah sesama manusia. Padahal ternyata bukan manusia yang membunuh jutaan manusia. Itu adalah yang namanya virus, sehingga sistem persenjataan dan sistem ketahanan yang dibangun tidak cocok untuk menghadapi virus,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut Budi, ia merasa sistem pertahanan terhadap virus harus dibangun. Di mana di Indonesia, yang memiliki kewenangan paling banyak untuk mewujudkan hal tersebut adalah dirinya dan Bambang, selaku Menristek RI.

“Dan sesudah saya telponan dengan Pak Menristek, saya baru sadar bahwa yang memiliki kemampuan untuk membangun sistem pertahanan melawan virus ini adalah paling banyak saya dan Pak Bambang. Cuma karena tidak terkoordinasi, harus terkoordinasi, kalau gak susah,” katanya.

Karena itulah, kata Budi, ide tanda tangan MOU ini dimulai.

Budi juga mengatakan bahwa ia berharap apa yang telah dimulai hari ini bisa ditindak lanjuti.

“Saya harapkan hasil diskusi dengan beliau adalah kita harus menjalin semua lab yang mampu melakukan genome sequencing process, yang mampu melakukan deteksi dini terhadap musuh-musuh infiltrasi yang namanya virus, baik itu ada di tempat saya, dan ada di tempatnya Pak Bambang, yang tersebar di seluruh perguruan tinggi,” katanya.

Dia menambahkan, “network ini harus dibangun, gak sendiri-sendiri, tapi bersama-sama. Terserah mau dibikinnya formal atau tidak formal. Ketuanya mau dari Menristek BRIN, mau dari Menteri Kesehatan, saya gak ada masalah. Tapi yang penting jaringan ini harus di establish. Jaringan dari lab-lab yang memiliki kemampuan genome sequencing.” 

Lebih lanjut Budi berharap, proses pertukaran informasi yang dilakukan bisa berjalan lancar tanpa adanya birokrasi yang menyulitkan.

“Ini harus terjadi pertukaran yang cair, gak usah terlalu banyak birokrasi, gak usah terlalu banyak surat-menyurat, izin-izinan. Pertukaran yang cair dari informasi. Jadi informasi harus cair dipertukarkan antara jaringan lab ini. Harus ada pertukaran resources juga,” tegasnya.

Budi memastikan, akan langsung memberi izin dan memenuhi apa yang menjadi kebutuhan Kemenristek misalnya lab atau sumber daya manusia.

“Harus segera kita berikan. Cair aja, yang gampang aja biar cepat. Kalau perguruan tinggi butuh fasilitas kita, harus kita berikan. Kalau kita butuh resources-nya mungkin ke tempatnya Pak Bambang, PhD-nya lebih banyak di genome sequencing, kita bisa minta. Gak usah terlalu mengikuti birokrasi untuk beresin masalah ini. Karena ini menghadapi musuh, ini kan gerakannya cepat sekali, respons kita harus cepat,” papar Budi. 

Dia melanjutkan, “jadi pertama selain network harus dibangun secara informal ini dulu, kemudian yang kedua pertukaran resources-nya harus cair. Resource dari sisi alat, orang, informasi juga.” 

Budi juga mengimbau agar pihak-pihak terkait segera membangun nama atau kerja sama dalam hal ini, sehingga bisa menjadi wakil Indonesia di dunia.

“Harus cepat-cepat melakukan kontak ke dunia mau itu ke GISAID, mau itu ke Wellcome Trust, mau itu ke World Genome Projects, harus eksis, harus segera keluar ke dunia, bilang “eh Indonesia udah punya nih kita ada jaringan ini. Jadi kalau ada apa-apa kontaknya ke kita,” paparnya.

Menurut Budi, Indonesia harus aktif memberikan kontribusi ke level dunia supaya perspektif Indonesia didengar.

“Di dunia genome sequencing ini, jangan yang didengar adalah masukan dari Australia, masukan dari orang Eropa, masukan dari orang China, masukan dari orang Amerika, padahal kita negara besar dengan populasi terbanyak, yang menderita ini juga banyak. Kalau eksistensi kita ada di dunia internasional, kami harapkan bahwa perspektif Indonesia bisa dibawa masuk ke sana, sehingga pada saat ada keputusan-keputusan di level dunia yang harus diambil, sudah masuk perspektif kita,” ujar Budi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.